Catatan Perjalananku (My Travelogue)

Biasanya perwira polisi arogan yang diceritakan di bawah ini dilabeli sebagai 'oknum', untuk memisahkan individu yang bermasalah dari lembaganya.


 


Tapi jika seseorang yang berpangkat Komisaris Besar Polisi (setara dengan Kolonel pada dinas militer) masih mengancam memukul perempuan hamil di jalan raya, mungkin kita perlu menduga masih ada problem dengan lembaga polisi dalam menangani para personilnya.


 


salam


 


Regards


---


Tomi Satryatomo


Executive Editor


Channel Awani-Astro Indonesia


PT. Adi Karya Visi


Jalan Gatot Subroto Kav.35-36


Jakarta 12950, Indonesia


Telp.+62 21 30400400 ext.3431


Fax.+62 21 30400415


--------------------------


Sent from my BlackBerry Wireless Handheld


 


-----Original Message-----


From: Indra Anmasjah Pasaribu


 To: Tomi Satryatomo


 Sent: Fri May 11 13:34:32 2007


Subject: Kekerasan, arogansi, power abuse di Indonesia


 


FYI dapat dari Forum Sebelah...


 


Kekerasan, arogansi, power abuse di Indonesia??? ??


 


Oooh...ini mah sudah tradisi!!!!


 


Mungkin pelaku2nya sudah gak makan nasi kayak kita2 lagi jadi merasa sah2 saja menindas, menyiksa, menghina dan menistakan kita.


 


Gak usah deh lihat videonya kekerasa di IPDN yang menyebabkan Praja Cliff Muntu meninggal dunia, miris..... mau tau yg barusan terjadi


tadi pagi dengan dirikuw????


 


Perjalanan ke kantor bersama suami tadi pagi seperti biasa kehambat di Jalanan Deplu Raya Pondok Pinang arah Pondok Indah. Waktu menunjukkan


jam delapan pagi.


 


Semua tertib ngantre, sampai tiba2 ada mobil seperti Carrens abu-abu nyodok dari sebelah kiri di bagian jalan yg mulai menyempit dan menurun.


 


Alhasil kena deh bemper belakang mobil kreditan disrempet. Suami memutuskan untuk minta pertanggungan jawab pengemudi mobil Carrens abu-abu tersebut. Setelah sama2 minggir, dengan arogannya si pengemudi ngomong: "Masukin aja ke bengkel, berapapun biayanya saya ganti",sambil mau ngeloyor pergi...


 


Lho?!....terus, mau minta ganti ke siapa dan kemana neh?


 


Nunggu suami masih bengong gitu, ya sudah saya inisiatif minta data2 si pengemudi seperti nama atau KTP atau nomor telpon yang bisa dihubungi dan dapat dijadikan sebagai bukti pertangungan- jawab dia.


 


 Eh, ndhilalah direspon si pengemudi dengan lebih arogannya dan nada suara yang lebih keras dari sebelumnya bahwa dia adalah KOMBES POLISI Muh....(saat menyebutkan namanya nada suaranya jadi lebih pelan seperti bergumam) dan menyebutkan nomor Hpnya dengan nada suara lebih lirih lagi.


 


Suami cuma sempat mencatat nomor HPnya dan kita berdua gak ada yang ingat dia menyebutkan namanya siapa karena setelah itu si oknum KOMBES POLISI itu benar2 ngeloyor balik ke mobilnya.


 


Duh Gusti, saya pikir edan neh oknum KOMBES POLISI. Dia yang salah, boro2 minta maaf malah dia yang lebih galak dan kasar, dan jadi gak jelas begini. Saya bilang ke dia: "Bapak, ngaku2 KOMBES POLISI tapi nyetir mobil sembarangan dan gak nyontohin yang bener ke masyarakat".


 


Eeeh..ternyata omongan saya tambah menyulut arogansi dan semakin membuat dia bebas melaksanakan power abusenya ke saya.


 


Dia samperin lagi saya sambil posisi tangan kirinya mau merengkuh baju saya di bagian dada dan tangan kanannya sudah diangkat tinggi2 siap menonjok muka saya sambil bilang: "Ngomong apa kamu?!!!"


 


Hegh????!!!


 


Suami saya berusaha melerai kami sambil bilang: "Pak, Pak, sabar, istri saya lagi hamil, Pak".


 


Tapi rupanya si oknum KOMBES POLISI itu sudah kerasukan setan malah bilang: "Saya gak peduli!!!... Gak saya ganti rugi sekalian!!!" sambil terus berusaha menonjok saya.


 


Saya sudah pasrah dan pasang badan bilang ke oknum KOMBES POLISI itu: "Hayo, Pak pukul saja, biar enak saya nuntut Bapaknya ke Komdak nanti...kalau Bapak benar2 gentleman, masa beraninya cuma sama perempuan?!"


 


Dunia memang sudah edan, dia malah nantangin saya: "Silahkan saja!" Tapi sambil balik badan dan terus sumpah serapah yang kami tidak dapat mendengarnya secara jelas, ngeloyor ke mobilnya dan menancap gas pergi dari TKP.


 


Astaghfirullah al'adziim... ..mungkin pada saat kejadian dia kebelet buang air besar terus jadi bantet gara2 harus berususan dengan perempuan hamil yang cuma minta pertanggungan- jawab dan permohonam maaf dari kelakuannya yang gak ada pantes2nya sebagai KOMBES POLISI....oleh karena itu dia sah-sah saja bersikap arogan, power abuse, menghinakan dan menistakan saya sedemikian rupa dipingir jalanan macet begitu.... :-(


 


Melanjutkan perjalanan ke kantor, saya minta suami untuk coba menghubungi no HP yang diberikan oknum KOMBES POLISI itu dan Alhamdulillah ternyata yang bersangkutan memberikan nomor HP dengan benar (dan juga Insya Alah memberikan nama yang benar). Kami jadi tau bahwa dia adalah:


 


KOMBES POLISI Muhammad Siri Mahmud


 


Pengemudi mobil seperti Carrens warna abu-abu dengan No. Pol. B 8273 BR


HP No. 0813 183 75 848.


 


Inilah negaraku dan inilah bangsaku.... Slogan-slogan lip service dari POLRI silahkan ditelan lagi sendiri oleh oknum-oknum polisi seperti KOMBES POLISI Muhamad Siri Mahmud itu.


 


Hati-hati berususan dengan oknum petugas polisi yang bernama KOMBES POLISI Muhamad Siri Mahmud, yang seharusnya jadi teladan dan pengayom rakyat...Saya sarankan, kita yang waras dan beradab lebih baik mengalah saja....


 


Buat Bapak KOMBES POLISI Muhamad Siri Mahmud, terserah Bapak mau bertanggung- jawab atau tidak mengganti biaya kerusakan mobil kreditan saya yang disrempet mobil Bapak karena Bapak tetap tidak mau memberitahukan kemana saya dan suami saya harus mengantarkan kwitansi biaya perbaikan mobil tersebut, yang pasti Bapak yang sebenarnya sudah menghinakan dan menistakan diri Bapak sendiri di depan orang banyak dan Bapak berhutang permohonan maaf kepada saya.


 


Faithfully Yours,


Ms. Jeannie Kiagoes


Free Trade Agreements Cluster


Bureau for Economic Integration and Finance


ASEAN Secretariat


70A, Jalan Sisingamangaraja Jakarta 12110 - Indonesia


Tel. +6221 - 726 2991, 724 3372 ext.381


Fax. +6221 - 739 8234, 724 3504, 720 0848


14 CommentsChronological   Reverse   Threaded
komandjaja wrote on May 11, '07
mas tomi, saya copy paste ya saya sebarkan di milis reporter polri
roelworks wrote on May 11, '07
Mas tomi udah rame nih disini
Comment deleted at the request of the author.
omhanif wrote on May 11, '07
mestinya ditanyain sekali
berapa gajimu pak kombes, ampe bisa punya carens
thetrueideas wrote on May 11, '07
wuiiii, ngeri, kok gak ilang-ilang penyakit begituannya yak!

*yangpernahkenatempelengpolisi!
chaerani wrote on May 11, '07
Sudah saya relay di blog saya http://www.indrani.net.. mudah2an para blogger lain juga merelay berita ini kalau bisa diterjemahkan ke bahasa inggris juga
epriabdurrahman wrote on May 11, '07
oknum yang begini kelihatannya memang banyak mas Tommy, trs kalau banyak apa namanya masih oknum ya? hiks....
ariefadiwibowo wrote on May 11, '07
No comment...No comment...tapi ada juga polisi yang masih punya komitmen bagus utk negara ini kok.
erikar wrote on May 11, '07, edited on May 11, '07
Sip mas!

Mestinya dicari tau beliau berdinas di mana? Markas Besar (Mabes) Polri atau Polisi Daerah (Polda) Metro Jaya? Dan benarkah beliau itu Kombes? Mengingat pangkat Komisaris Besar itu cukup tinggi, dan perilaku ugal-ugalan seperti itu bisa jadi sulit untuk membuatnya dianugerahi pangkat setingkat itu, apabila usia dan prestasinya normal.

Lain soal apabila ia adalah perwira menengah angkatan tua yang memang sudah masuk golongan 'dikandangkan', pangkat Kombes atau AKBP (Ajun Komisaris Besar) adalah pangkat yang populer (sekedar formalitas) diberikan, sambil menunggu masa mereka pensiun. Jabatannya pun kadang sekedar administratif dan tidak masuk di garis komando taktis.

Menilik dari cerita di atas, para Kombes yang berpengaruh di jajaran Polda, biasanya memiliki 'ajudan' dan para ajudan biasanya mengambil alih perkara ini, jarang sang komandan turun langsung, apalagi sampai meraih kerah seorang wanita untuk dipukul.

Lain dengan Kombes di jajaran Markas Besar Polri. Di sini bertebaran, Kombes tidak berpengaruh, Kombes menunggu masa pensiun ataupun Kombes tanpa jabatan penting (non-job).

Apabila sang Kombes di cerita ini, menyetir sendiri dan bertindak sendiri, saya berani menyimpulkan bahwa beliau masuk di kategori ini.
Dan apabila cerita ini sampai ke telinga petingginya, dijamin karirnya akan langsung suram. Setidaknya ia akan dimutasi atau diinterogasi oleh divisi profesi dan keamanan (propam) Polri.

Santai aja lah.. Gampang kok, mengontrol Polri di jaman sekarang ini.




sikrit wrote on May 11, '07
omhanif said
mestinya ditanyain sekali
berapa gajimu pak kombes, ampe bisa punya carens
Hheh Om Hanif jeli juga yaaa..
Ternyata susah merubah kearoganan (oknum) polisi..
zsfitri wrote on May 14, '07
mudah-mudahan sebelum berita ini disebarluaskan, sudah ada tabayyun (klarifikasi), disertai saksi mata ya, pak Tomi..
Meski memang ngga jarang denger ada oknum begini, tapi kan tetap perlu dibuktikan apakah bisa dipertanggungjawabkan..
Tapi saya yakin kok, pak Tomi sudah lebih tau ttg ini...:)
erikar wrote on May 14, '07
Sekedar tahu saja :

(Diambil dari mbot.multiply.com)

Sebagai orang yang sempet punya cita-cita jadi wartawan tapi belum kesampean, rasa penasaran gue mulai timbul. Bener nggak sih kisah yang diceritain di email ini? Bisa aja ini cuma propaganda seseorang yang ingin mendiskreditkan polisi, ATAU ulah iseng seorang temen Jeannie yang ingin bikin temennya kerepotan nerima telepon / email gelap.

Maka gue angkat telepon, dan pertama-tama gue hubungi Jeannie di nomor yang tercantum di signaturenya. Automatic greeting yang menyambut gue mengkonfirmasikan bahwa nomer yang gue hubungi memang betul kantornya ASEAN. Gue tekan nomor extension, dan akhirnya terhubung dengan Jeannie Kiagoes sendiri.

Lewat telepon, Jeannie membenarkan bahwa dialah yang menulis email itu dan kejadian yang diceritakannya bener-bener terjadi. Dia cuma mengirimkannya ke beberapa orang temen plus milis yang dia ikuti, tapi nggak nyangka bahwa ternyata e-mail itu nyebar ke mana2 (jadi inget kasus pengokot). Setelah menanyakan alamat e-mail gue, Jeannie lantas memforwardkan sebuah e-mail yang berisi tanggapan teman-temannya atas peristiwa tersebut.

Yang menarik adalah; di email yang diforwardkan oleh Jeannie ini ada tanggapan dari Bapak Benyamin Selawah, Divisi Telematika InterPol yang menyatakan bahwa TIDAK ADA KOMBES BERNAMA MUHAMMAD SIRI MAHMUD DI DATABASE KEPOLISIAN! Sebaliknya, di bagian lain dari e-mail itu juga ada 'laporan' beberapa orang teman Jeannie yang mencoba menghubungi Pak Muhammad Siri ini dan menerima pengakuan dari ybs bahwa dia memang betul seorang Kombes Polisi, pernah bertugas di Sulawesi dan sekarang bertugas di Badan Narkotika Nasional.

Nah lo, mana yang betul nih? Jadi makin penasaran deh gue. Tadinya gue mau langsung menghubungi Pak Muhammad Siri ini dari telepon kantor, tapi takutnya tau-tau telepon gue dilacak trus kantor gue disangkutpautkan dengan 'tindakan menghina aparat negara' kan repot. Sedangkan mau gue telepon dari HP gue sendiri, resikonya kalo ternyata si Pak Muhammad Siri ini bertindak aneh dan meneror HP gue, kan males juga.

Awalnya gue mencoba melupakan urusan aneh ini, tapi kok ya penasaran juga. Akhirnya tau nggak... gue memutuskan untuk beli kartu perdana Simpati, KHUSUS untuk nelepon si Pak Muhammad Siri ini! Hehehehe... temen-temen gue sampe pada heran, "lo tuh iseng banget, tau nggak sih?" Bukan, ini bukan iseng. Ini naluri jurnalistik!

Rekaman lengkap pembicaraan gue dengan Pak Muhammad Siri bisa didownload dari attachment posting ini, ukurannya 1.6 MB dalam format wma, durasinya 7 menit. Gue rekam pake MP3 player yang didekatkan sama HP yang disetel pake loudspeaker, jadi lumayan banyak distorsi sinyal di situ, tapi mudah-mudahan dialognya cukup terdengar jelas. Dengan pe-denya gue memperkenalkan diri sebagai, "Agung dari website mbot-multiply.com" - jadi kedengerannya seperti reporter dari Detik.com or something, hihihihi...

Intinya, Pak Muhammad Siri membenarkan bahwa udah terjadi insiden lalu lintas dengan Jeannie, tapi dia membantah udah menabrak - melainkan hanya 'serempetan sedikit'. Dia merasa udah menawarkan ganti rugi, tapi malah menerima penghinaan dari Jeannie. Karena penghinaan Jeannie telah menghina polisi dan tindakan itu adalah tindakan yang "tidak benar".

Pak Muhammad Siri membantah akan memukul Jeannie, dan juga ketika gue tanya pendapatnya tentang pernyataan Benyamin Selawah bahwa nggak ada kombes bernama Muhammad Siri, tanggapannya adalah, "Jangan dimain-mainkan! Anda punya kenalan polisi atau tidak?" (Lho, apa hubungannya pak?)

Pak Muhammad Siri juga 'menantang' dirinya tidak takut bila urusan ini dibawa ke Kapolri atau SBY sekalipun, dirinya terbuka untuk didatangi bila hendak menyelesaikan urusan ini. Denger dia ngomong gitu ya sekalian aja gue tanya, "Kalo gitu boleh tau alamat rumah bapak?" Eh, dia nggak mau ngasih, heheheh...

Ditanya soal di mana kantor tempat bertugasnya sebagai polisi, dia juga menolak untuk menjawab, sebab "Saya ini orangnya tertutup..." Lah, tadi katanya terbuka, pak...

Sayangnya, berhubung kartu perdana gue cuma punya pulsa 10 ribu, maka pembicaraan mendadak terputus gara2 pulsa abis..

Mas Tian udah ngasih nomor kontak BNN, tapi berhubung dari kantor gue nggak bisa akses MP maka gue nyari sendiri di google dan akhirnya nemu website bnn yang memuat nomor teleponnya.

Gue telepon ke sana, pilih sambungan ke operator.
"BNN selamat siang," terdengar suara seorang mbak-mbak menjawab
"Selamat siang mbak, ini saya dari Wijaya Florist (ngarang aja biar cepet) mau kirim paket bunga untuk Bapak Muhammad Siri Mahmud, apa benar masih berkantor di BNN ya?"
"Pak Siri Mahmud? Ooo... beliau sudah 2 tahun yang lalu PENSIUN, pak!"
"Oh, jadi sekarang sudah tidak di situ lagi ya? Jadi ini paketnya nggak bisa saya kirim ke sana ya mbak?"
"Nggak bisa Pak, saya juga nggak tau alamat rumahnya."
"Ok mbak, terima kasih."

Ternyata si bapak itu beneran pernah kerja di BNN tapi udah pensiun... tapi apakah kombes beneran atau enggak masih belum jelas sih. Gue juga nggak tau apakah semua orang yang kerja di BNN itu polisi?

www.mbot.multiply.com/journal/item/373
nenekmamak wrote on Jan 23
Interesting report..... What an attitude. Police in anywhere is responsible to protect the general members of public... Kiagos
vitriandri wrote on Mar 2
To Mba Jeannie, aku turut prihatin dengan kejadian itu. Suamiku jg berprofesi sbg polisi, tapi Alhamdulillah dan Insya Allah kami selalu berhati-hati dengan segala tindakan dan ucapan kami. Apapun yang terucap dan diperbuat kami sadar tidak hanya membawa nama pribadi tp jg nama institusi.. Intinya, arogansi dimula ketika ada perasaan diri "lebih" dari yang lain.. Padahal semua manusia adalah sama, yang membedakan hanyalah amal ibadahnya. Jadi buat kami tidak ada alasan menjadi arogan..karena kami tetap pelayan dan pengayom masyarakat..
Add a Comment
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help

Template design - Copyright © 2005 Sam Royama All rights reserved.